Home Warna Warni Perayaan Tahun Baru Saka 1936

Perayaan Tahun Baru Saka 1936

Untuk menghormati perayaan tahun baru Saka 1936, atau yang lebih dikenal dengan Hari Raya Nyepi, pemuka lintas agama di Kota Denpasar, Bali mengeluarkan seruan bersama, hal inilah yang menjadi topik Warna Warni kali ini. Biasanya perayaan pergantian tahun baik tahun baru Masehi atau Hijriyah maupun Imlek dan lainnya diisi dengan kemeriahan. Tidak sama halnya dengan perayaan pergantian tahun bagi umat Hindu yang disebut dengan Hari Raya Nyepi.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Perayaan Nyepi jatuh pada hari ini Senin 31 Maret 2014. Pada saat Nyepi dimulai, seluruh masyarakat Bali dilarang melakukan aktivitas. Listrik padam. Bandara ditutup. Aktivitas pelayaran pun dihentikan. Untuk menghormati perayaan tahun baru Saka 1934, pemuka lintas agama di Kota Denpasar mengeluarkan seruan bersama. Seruan bersama ini disosialisasikan oleh Majelis-majelis agama dan keagamaan serta instansi terkait kepada seluruh umat beragama di Bali. Serta wajib dipedomani oleh seluruh warga Kota Denpasar dalam rangka menjaga kesucian pelaksanaan hari raya Nyepi Tahun Saka 1936.

kesepakatan tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat di Bali baik yang beragama Hindu maupun non Hindu, tak terkecuali wisatawan asing yang sudah berada di Bali sebelum perayaan Hari Raya Nyepi. Selain itu, kesepakatan ini juga dikenakan kepada  masyarakat yang akan bekunjung ke Bali baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Kesepakatan tersebut yakni : Bagi umat Hindu agar melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya sebagaimana pedoman edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali. Bagi umat Islam yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid, mushola, langgar terdekat dari tempat tinggalnya dengan berjalan kaki dan tidak menggunakan pengeras suara dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 06.00 hari berikutnya. Sedangkan untuk umat beragama Kristen, Katholik, Buddha dan Konghucu menyesuaikan.

Menyerukan agar tidak menyalakan petasan dan bunyi-bunyian sejenisnya yang sifatnya mengganggu rangkaian ritual Hari Suci Nyepi dan membahayakan ketertiban umum. Bila ada di antara warga yang mengalami kepancabaya (musibah/keadaan darurat) seperti sakit, melahirkan, kematian, dan lain-lain, agar berkoordinasi dengan prajuru desa pakraman setempat.

Bagi hotel-hotel yang ada di lingkungan Kota Denpasar agar tidak menyediakan paket liburan Hari Raya Nyepi. Diharapkan, dengan adanya seruan bersama majelis-majelis agama/keagamaan Kota Denpasar ini rangkaian hari raya suci Nyepi Tahun Saka 1936 dapat berjalan dengan lancar dan khidmat serta situasi kondisi kerukunan umat beragama di wilayah Kota Denpasar bisa tetap terjaga.// Devy

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990