Home Warna Warni Ikon Kota Siantar Yang Menembus Zaman

Ikon Kota Siantar Yang Menembus Zaman

 

Salah satu moda transportasi yang menjadi ikon kota Siantar, Betor BSA menjadi topik Warna Warni kali ini.

Anda ingin berfantasi ke era Perang Dunia II saat peluru berdesing dan ledakan granat bertebaran? Kunjungilah Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia, fantasi tersebut, bisa Anda rasakan dengan naik ikon kota ini yaitu betor atau becak motor bermesin motor merk BSA – Birmingham Small Arms buatan Inggris. Oleh karenanya, betor di kota ini dikenal juga dengan sebutan betor BSA.

Asal-usul betor BSA sangat unik. BSA merupakan sepeda motor yang digunakan pada masa Perang Dunia II tahun 1945. Ketika Indonesia merdeka dan tentara Belanda dan Sekutu meninggalkan Tanah Air, puluhan sepeda motor ini ditinggalkan tentara Belanda dan Sekutu dimana-mana. Waktu itu, selain merk BSA, ada juga merk lainnya seperti Norton, Harley Davidson, dan Triumph, yang tidak diproduksi lagi di negara asalnya.

Menurut Kusma Erizal Ginting, pendiri sekaligus Presiden BSA Owner Motorcycles Siantar-BOM’S, sejumlah merek telah dicoba digabung dengan becak, yang merupakan salah satu moda transportasi yang popular di Pematangsiantar pada tahun 1958. Namun, dari berbagai uji coba, hanya sepeda motor merek BSA yang tangguh. Selain irit bahan bakar, suku cadangnya dapat diakali dengan cara dibubut, dipindah-pindah atau yang disebut secara kanibal.

pada tahun 1973-1980, betor BSA berjaya, jumlahnya mencapai 3 ribu unit. Hal ini menjadi rekor sendiri, karena tidak ada sepeda motor BSA sebanyak 3 ribu yang terkumpul dalam satu kota. Hal tersebut menjadikan betor BSA identik dengan Pematang Siantar. Jika di Jawa ada batik, di Kalimantan ada Mandau, maka di Pematangsiantar ada betor.

Selain jumlah betor yang menjadi rekor, penghasilan penariknya juga sangat tinggi pada waktu itu. Dengan bekerja sehari, hasilnya dapat menutupi kebutuhan empat hingga enam hari.

Memasuki era tahun 1990-an, masa kejayaan betor BSA meredup, seiring munculnya angkutan kota. Masyarakat dengan mudah mendapatkan sepeda motor, sehingga masyarakat pun tidak lagi membutuhkan betor.

Lantaran biaya perawatan betor BSA tinggi, serta penghasilan yang tak menentu, banyak pemilik kendaraan bekas perang yang menjadi ikon Pematangsiantar ini menjualnya.

Karena tampilannya yang kekar, klasik dan melegenda, motor jenis ini pun banyak diburu para kolektor dari seluruh Indonesia bahkan dunia. Maklum, di negara asalnya sendiri kuda besi ini sudah jarang dilihat. Kalaupun ada, hanya dapat dilihat di museum perang.

Di Kota Siantar, kini ada larangan membawa keluar becak motor BSA dari kota tersebut. Bahkan, pemerintah daerah setempat memberi kemudahan bagi pemiliknya dalam hal kepengurusan surat bukti kepemilikan agar bisa dipertahankan sebagai warisan dan moda transportasi wisata.// Devy

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990