Home Pesona Indonesia Upacara Perang Pisang, Dari Provinsi Bali.

Upacara Perang Pisang, Dari Provinsi Bali.

Pesona Indonesia Hari ini kami akan memperkenalkan kepada anda Upacara Perang Pisang dari Provinsi Bali

Selain mempunyai pemandangan yang terkenal keindahannya, Bali juga mempunyai banyak tradisi unik yang kental dengan nuansa ritual dan religi yang sudah dijalankan turun temurun, salah satunya adalah Upacara Perang Pisang atau Mesabatan Biu, yang biasa dilakukan khususnya oleh  masyarakat Bali yang tinggal di Desa Tenganan Daud Tukad, kecamatan Manggis, kabupaten karangasem.  Desa Tenganan ini merupakan desa tua di Bali yang disebut juga dengan Bali Aga.

Perang Pisang ini dilakukan dalam rangka pemilihan ketua dan wakil ketua kelompok di desa ini. Tujuannya  ialah untuk melakukan tes dan uji mental kepada para calon yang akan menjadi pemimpin desa setempat. Mereka harus lulus ujian dalam tradisi ini jika ingin kariernya sebagai tokoh pemuda di desa Tenganan berjalan dengan mulus.

Sebelum perang pisang dimulai, dari pagi hari para pemuda itu harus menyiapkan 20 butir kelapa dan sesisir pisang  tanpa dibantu orang lain. Setelah siap, kelapa dan pisang dipanggul sebagai bentuk syukur atas panen hasil bumi yang nantinya kelapa akan disumbangkan ke desa sementara pisangnya akan dijadikan senjata dalam Upacara Perang Pisang.

Dalam pelaksanaannya, ada 16 orang pemuda yang sudah dipilih oleh kelian adat sebagai lawan dari calon ketua dan wakil ketua. Kemudian 16 pemuda yang telah dipilih  berkumpul di ujung desa, yang berjarak kurang lebih 300 meter dari pura Bale Agung. Tempat itu juga merupakan  tempat mereka ganti pakaian.  Karena baju mereka akan diganti  dengan pakaian adat yaitu  kain kemben dan penutup kepala yang disebut udeng, dan  tanpa baju yang menunjukkan mereka sudah dewasa.

Sementara itu para tetua laki-laki duduk di atas bale yang terletak di jeron Bale Agung, sedangkan para ibu menyiapkan makanan khusus untuk megibung  atau ritual makan bersama. Sedangkan para Bapak, pemuda-pemudi dan anak-anak, kelihatan berjejer di sepanjang jalan yang akan menyaksikan berlangsungnya perang budaya dan tradisi ini.

Upacara Tradisi Perang Pisang akan segera dimulai apabila sudah ada aba-aba dari kelian adat Tenganan Daud Tukad. Setelah itu para pemuda dengan langkah setengah berlari menuju pertengahan jalan antara pura dan ujung jalan. Di sinilah perang dimulai. Dua pemuda yang menjadi sasaran perang dan diperbolehkan melawan tentu akan kewalahan karena  perang yang tidak seimbang. Tetapi mereka harus terus melangkah menuju pura, Karena  mereka tidak diperbolehkan berhenti apalagi sampai tergopoh-gopoh dan jatuh. Kalau sampai itu terjadi mereka akan dianggap gagal dan tidak pantas menjadi pemimpin. Mereka akan dianggap lulus  apabila sudah melewati pintu gerbang. Sebetulnya tujuan dari pemilihan dengan perang pisang ini adalah untuk mencari pemimpin yang kredibel, kuat mental dan fisik untuk menghadapi persoalan yang semakin  kompleks. Selain itu ketua dan wakil ketua itu nantinya diharapkan akan menjadi tokoh adat yang mempu menjaga keutuhan desa

Pelaksanaan Perang pisang akan diakhiri dengan Megibung atau makan bersama dalam satu wadah di Pura Bale Agung yang diikuti oleh semua warga desa. Mereka duduk melingkari makanan khas yang telah disiapkan sebelumnya. Tradisi ini juga untuk menghilangkan rasa permusuhan di antara pemuda desa dan juga  ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga mengajarkan toleransi dan kebersamaan  serta tetap melestarikan adat istiadat desa.//Edn

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990