Home Komentar Perserikatan Bangsa-Bangsa Perlu Lebih Aktif Dalam Selesaikan Masalah Ukraina

Perserikatan Bangsa-Bangsa Perlu Lebih Aktif Dalam Selesaikan Masalah Ukraina

Lepasnya Crimea dari wilayah Ukraina tidak berarti masalah yang dihadapi  telah berakhir. Ukraina kini dihadapkan pada gerakan-gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari negara itu. Setidaknya, saat ini ada 10 kota yang diduduki para demonstran pro Rusia di Ukraina. Sebagian bersenjata dan menguasai kantor-kantor pemerintahan.
Gerakan perlawanan atas Pemerintah Ukraina pun sudah sampai di Kiev, Ibu Kota negara. Kota-kota lain yang dikuasai demonstran kebanyakan ada di timur Ukraina, perbatasan dengan Rusia.

Perdana menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin hendak mengembalikan lagi keberadaan Uni Soviet dengan pencaplokan Crimea baru-baru ini dan menghasut kerusuhan pro-Rusia di Ukraina timur. 
Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui perubahan amandemen undang-undang untuk mempermudah penutur bahasa Rusia memperoleh kewarganegaraan. Hal ini merupakan suatu cara Moskow menarik simpati penutur bahasa Rusia di bekas wilayah Soviet. Perubahan itu mengikuti penyatuan atas semenanjung Krim, Ukraina, dan ketegangan di sebagian besar wilayah berpenduduk berbahasa Rusia di Ukraina timur.

Dalam kondisi seperti ini, keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa -PBB tentunya sangat diharapkan. Sikap tegas PBB sangat penting untuk mencegah konflik yang semakin parah, semakin menggerogoti Ukraina. Perserikatan Bangsa-Bangsa dinilai tidak berhasil menyelesaikan masalah politik di Ukraina menyusul lepasnya Crimea dari negeri itu. Seorang mantan penasihat Pemerintah Rusia, Alexander Nekrassov, berpendapat,  PBB lebih banyak diam tanpa berbuat sesuatu yang signifikan untuk terlibat lebih pada krisis Ukraina.

Memang Dewan Keamanan PBB telah menggelar voting atas krisis politik di Crimea dan Ukraina. Namun, hal itu dilakukan atas permintaan pemerintahan sementara Ukraina. Resolusi untuk mengutuk pisahnya Crimea dari Rusia itu pun tak berhasil. Rusia memveto dan Tiongkok abstain, artinya Resolusi itu tidak “berguna”.  Langkah ke dua PBB yang dianggap besar adalah resolusi Majelis Umum PBB yang menyerukan negara-negara di dunia untuk tidak menerima referendum Crimea. Resolusi ini disetujui 100 negara, ditolak 11 negara, dan ada 58 negara lainnya abstain.

Nampaknya Perserikatan Bangsa-Bangsa merasa kedua langkah itu sudah cukup strategis untuk mengatasi krisis di Ukraina. Namun ternyata kedua langkah itu tidak berarti banyak mengingat perkembangan politik yang terjadi di Ukraina saat ini yang masih tidak stabil.

Sudah saatnya bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk lebih menegaskan posisinya sebagai organisasi dunia dengan bersikap lebih tegas pada Moskow, agar kekhawatiran Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk tidak menjadi kenyataan. Pane

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990