Home Komentar Tantangan Penyelenggaraan Pemilu Di Luar Negeri

Tantangan Penyelenggaraan Pemilu Di Luar Negeri

Pemungutan suara di luar negeri tidak digelar pada tanggal 9 April 2014, sebagaimana waktu penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) di dalam negeri. Hal ini bertujuan agar warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri dapat menggunakan hak pilihnya dengan lebih baik, untuk meningkatkan partisipasi pemilih, serta untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Berdasarkan keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 238/Kpts/KPU/Tahun 2014 tentang Hari dan Tanggal Pemungutan Suara untuk Pemilu Anggota DPR 2014 di Luar Negeri pada 130 Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN), pemungutan suara di luar negeri berlangsung tanggal 30 Maret hingga 6 April 2014.

Pada akhir bulan Maret, ada delapan wilayah perwakilan Indonesia di luar negeri yang telah menggelar pemilu legislatif. Enam PPLN yang menggelar pemilu pada 30 Maret 2014 adalah Beijing dan Shanghai (Tiongkok), Hongkong, Kopenhagen (Denmark), Santiago (Chile), dan Brasilia (Brasil). Adapun PPLN yang menggelar pemilu pada 31 Maret adalah Kabul (Afganistan) dan Quito (Ekuador).

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ferry Kurnia Rizkiansyah, mengatakan, daftar pemilih luar negeri pada Pemilu 2014 berjumlah 2.025.000 orang. Hasil pemilihan suara yang sudah dicoblos akan dimasukkan ke dalam kotak suara dan disimpan di kantor PPLN untuk dibuka secara serentak pada tanggal 9 April 2014 di masing-masing PPLN. Pertanyaannya kemudian apakah penyelenggaraan pemilu di luar negeri dapat terlaksana sesuai yang diharapkan, yakni sukses penyelenggaraan dan sukses substantif di mana semua yang terdaftar menggunakan hak pilihnya dengan pengetahuan tentang pilihannya?

Harus diakui, meski jumlah pemilih relatif lebih kecil dibanding jumlah pemilih yang terdaftar di daerah pemilihan, terutama di kota besar, penyelenggaraan pemilu di luar negeri tidak luput dari kendala-kendala klasik, antara lain pemilih yang memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Ini belum termasuk konsekuensi kerja yang membuat sejumlah pekerja tidak bisa datang ke tempat pemungutan suara. Untuk kendala yang terakhir, dapat diminimalisir dengan cara ikut serta dalam pemilu melalui pengiriman pos dan dropbox (kotak jemputan). Terobosan tersebut diharapkan dapat memaksimalkan partisipasi pemilih dalam pemilu. Faktanya, di Hongkong, menurut keterangan anggota KPU, Arif Budiman, jumlah pemilih yang mencoblos pada tanggal 30 maret 2014 meningkat pesat, hampir sembilan kali lipat dibanding pemilu 2009. Apakah ini ada korelasinya dengan pilihan beragam cara untuk ikut serta dalam pemilu? Yang pasti, pihak pelaksana yang bertanggung jawab atas pemilu di luar negeri sudah menunjukkan kerja kerasnya dan itu merupakan usaha yang perlu diapresiasi. 

Di samping sejumlah perbaikan yang perlu diperhatikan, mungkin hanya masalah validasi daftar pemilih tetap luar negeri (DPTLN) yang perlu digarisbawahi, mengingat sejumlah laporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengungkapkan bahwa jumlah pemilih yang tidak terdata masih cukup banyak. Kiranya upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan merupakan bagian dari proses perbaikan yang terus menerus dilakukan guna membuktikan bahwa bangsa Indonesia berkomitmen menjadi Negara besar yang demokratis.  Rita

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990