Home Komentar Presiden Masa Datang, Presiden yang Cinta Hutan

Presiden Masa Datang, Presiden yang Cinta Hutan

 

Penyelenggaraan Pemilihan Umum Legislatif tinggal menghitung hari, sedangkan  Pemilihan Presiden pun tinggal sekitar 3,5 bulan lagi. Baik pihak penyelenggara maupun partai politik peserta pemilu tengah sibuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Dalam masa kampanye yang kini tengah berlangsung, banyak dilontarkan janji-janji indah yang menyenangkan hati. Masing-masing partai politik peserta pemilihan umum seolah berlomba menyampaikan gagasan-gagasan mereka untuk membuat Indonesia lebih baik di masa yang akan datang.

Memang masih banyak yang dapat dan harus dilakukan untuk membuat Indonesia lebih baik dalam berbagai segi kehidupan. Apalagi  banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan oleh pemerintahan kini  yang hampir habis masa baktinya. Salah satunya  adalah  tugas mengelola hutan di Indonesia  yang berfungsi antara lain sebagai paru-paru dunia.  

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam termasuk hutan. Dengan luas semula sekitar 144 juta hektar, hutan tropis Indonesia adalah yang terluas ke-3 di dunia setelah Brasil dan Kongo. Hutan yang sangat luas dengan kekayaan yang sangat berlimpah,  sesungguhnya menjadi modal yang sangat cukup untuk menjalankan pembangunan dan mensejahterakan rakyat Indonesia. Dengan pemanfaatan hutan yang baik serta berkelanjutan, Indonesia bisa menjadi negara yang makmur. Namun,  buruknya pengelolaan hutan Indonesia selama ini telah mendatangkan akibat yang sebaliknya. Alih-alih mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran, eksploitasi hutan yang membabi buta telah mendatangkan penderitaan serta bencana yang silih berganti menimpa masyarakat dan bangsa.

Sebut saja  kabut asap yang berkepanjangan di Riau. Bencana yang telah menimbulkan korban jiwa tersebut masih berlangsung hingga kini, walau beberapa hari terakhir tampak berkurang. Penyebab timbulnya kabut asap adalah  pembakaran hutan dan lahan oleh oknum yang  tak bertanggungjawab. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan besar tanpa memikirkan akibatnya,  khususnya yang merugikan  orang banyak. Bukan itu saja, ulah segelintir orang yang mengeksploitasi hutan di Indonesia secara besar-besaran tanpa memikirkan dampaknya, telah membuat jumlah hutan Indonesia berkurang dari tahun ke tahun. Akibatnya, terjadi kerugian yang cukup dahsyat akibat degradasi lahan, hutan yang gundul, bencana alam, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Paru-paru dunia ini pun menjadi sakit dan berkurang fungsinya.

Berkurangnya jumlah hutan di Indonesia merupakan hasil dari buruknya tata kelola hutan di Indonesia. Menurut laporan UNDP (United Nations Development Program) Indonesia tahun 2013, indeks tata kelola hutan dan lahan Indonesia secara nasional hanya bernilai 2,35 dari nilai terbaik 5.Provinsi Riau bahkan  hanya bernilai 1,89.

Hasil penelitian National University of Singapore sepanjang tahun 2000-2010 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Indonesia telah kehilangan hampir 9.000 juta hektar hutan, yang terbanyak di Sumatra, diikuti Kalimantan.  

Sebenarnya, konsep tata kelola hutan yang baik telah diatur dalam UU tahun 1999 tentang Kehutanan, diikuti dengan beberapa peraturan lainnya. Namun peraturan tinggal peraturan, prakteknya jauh panggang dari api. Apa penyebab kondisi ini? Indonesia tampaknya tak memiliki senjata yang ampuh dalam memulai reformasi tata kelola hutan. Kebijakan pengelolaan hutan adalah kebijakan politik. Karena itu, Presiden Indonesia terpilih nanti harus menangani secara serius perbaikan tata kelola hutan yang sakit.  

Semoga Presiden terpilih kelak dapat  dan mau memikirkan cara yang tepat untuk menangani hutan Indonesia yang sedang sakit, sehingga nantinya dapat berfungsi lagi sebagai paru-paru dunia yang sehat. EGR

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990