Home Komentar Warga Krimea Pilih Bergabung dengan Rusia, Wilayah Mana Berikutnya?

Warga Krimea Pilih Bergabung dengan Rusia, Wilayah Mana Berikutnya?

Pada hari Minggu lalu (17/3) warga Krimea memberikan suara pada referendum untuk menentukan dua pilihan yaitu bergabung dengan Rusia atau tetap bersama Ukraina dengan otonomi yang lebih besar. Setelah dilakukan penghitungan diketahui bahwa hampir 97 persen dari pemilih memberikan suara yang mendukung pemisahan diri dan  bergabung dengan Rusia. Etnik Rusia di Krimea pada Minggu malam berpesta setelah apa yang mereka anggap kemenangan dengan  memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung kembali dengan Rusia. Sementara itu, warga Krimea yang lain yang berasal dari minoritas etnik Ukraina dan  etnik Tatar, menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Hasil referendum yang akan membawa Krimea menjadi bagian Rusia sebetulnya sudah banyak diperkirakan sebelumnya. Sekitar 60 persen penduduk Krimea adalah etnik Rusia yang sudah barang tentu akan memilih bergabung dengan Rusia. Selain itu para pemimpin yang baru ditunjuk setelah kelompok orang-orang bersenjata pro-Rusia menyerbu parlemen pekan lalu, juga menyatakan keinginan mereka untuk merdeka dari Ukraina. Kehadiran besar-besaran pasukan Rusia d wilayah itu pun ditengarai menjadi tekanan psikologis bagi sebagian warga Krimea untuk memilh bergabung dengan Rusia.

Hasil referendum yang tentunya merupakan suatu “kemenangan bagi Rusia” ternyata mengundang protes dan keprihatinan dari masyarakat Ukraina dan internasional. Perdana Menteri ad interim Ukraina Arseniy Yatsenyuk menyatakan, referendum di Krimea yang didukung Moskow itu merupakan "tontonan sirkus di bawah todongan senjata oleh Rusia”. Ribuan warga Ukraina berkumpul di Lapangan Merdeka, Minggu, untuk menyuarakan ketidaksetujuan  mereka terhadap referendum itu dan langkah Moskow untuk memecah belah negara itu ketika dalam keadaan lemah.  Namun, semangat mereka menyusut karena banyak di antara mereka merasa tak berdaya menghadapi kebesaran Rusia.

Dari Amerika Serikat,  Gedung Putih menyebut referendum hari Minggu (16/3) itu ilegal dan melanggar konstitusi Ukraina. Pernyataan itu juga mengatakan, pemungutan suara itu "tidak akan pernah diakui oleh Amerika Serikat dan masyarakat internasional. Amerika Serikat dan sekutunya,  Eropa, diperkirakan akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Presiden Amerika Barack Obama sudah mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Washington dan "mitra-mitranya di Eropa siap untuk membebankan biaya tambahan" atas Moskow karena mendukung referendum pemisahan diri di semenanjung Krimea, Ukraina. Namun Rusia tidak dapat menerima protes itu begitu saja. Moskow menyatakan, negara itu melindungi warga etnik Rusia dari penindasan para ekstremis Ukraina yang meraih kekuasaan setelah berbulan-bulan protes anti-pemerintah yang berubah menjadi aksi kekerasan. Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia sangat menghormati keputusan yang dibuat warga Krimea.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan alasan melindungi etnik Rusia di Ukraina, Moskow akan “melakukan hal yang sama di wilayah lainnya ?

Sampai saat ini ada kekhawatiran bahwa Moskow tidak akan berhenti sampai Krimea. Kelompok-kelompok pro-Rusia telah menyerukan penyelenggaraan referendum yang sama di Ukraina Timur, di mana bentrokan kekerasan dengan  demonstran pro-Ukraina  pekan lalu mengakibatkan sedikitnya tiga orang tewas. Pane

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990