Home Komentar Ujian Nasional, Masih Perlukah?

Ujian Nasional, Masih Perlukah?

Sebentar lagi anak didik yang duduk di bangku terakhir SD, SMP, maupun SMA dan Sekolah Kejuruan akan menghadapi Ujian Nasional. Pemberitaan tentang Ujian Nasional ini ramai disorot media massa, karena ujian yang dimaksudkan untuk mencapai standar kemampuan siswa justru memunculkan berbagai persoalan.  

Pelaksanaan Ujian Nasional didasarkan pada Pasal 35 Ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Mengapa banyak dipersoalkan? Karena dianggap bertentangan dengan Pasal 58 Ayat (1) yang menyatakan bahwa  evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya hingga tahun 2013, Ujian Nasional merupakan penentu kelulusan siswa.

Ujian Nasional telah  menjadi momok bagi siswa. Bisa saja seorang murid yang cerdas dalam kesehariannya di sekolah dan berprestasi bagus, ternyata dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional karena gagal memenuhi kriteria nilai terendah. Upayanya bertahun-tahun dalam kegiatan belajar mengajar menjadi sia-sia hanya karena pada saat ujian nasional, ia tidak dapat menjawab soal yang diajukan dengan maksimal.  

Sebelum masa Orde Baru, dunia pendidikan hanya mengenal kata ‘ujian’ untuk evaluasi pendidikan seorang murid yang berada di tingkat terakhir sekolah, entah Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, atau Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Kejuruan. Pada masa Orde Baru dan masa Reformasi, istilah ujian berganti-ganti, mulai EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), UAN (Ujian Akhir Nasional), UAS (Ujian Akhir Sekolah), dan terakhir UN (Ujian Nasional). Peraturan yang mengikuti perubahan nama pun silih berganti.

Sebenarnya, banyak metode evaluasi kegiatan belajar mengajar  yang dapat diterapkan  terhadap siswa. Namun seseorang tidak bisa dikatakan cerdas jika hanya memiliki kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual dan emosional juga penting dinilai. Melalui Ujian Nasional, hal itu tidak mungkin dilakukan.

Karena itu, banyak pihak yang menuntut agar pemerintah menghapus Ujian Nasional. Sebagai gantinya, evaluasi pendidikan bisa dikembalikan ke sekolah. Para guru yang mendidik mereka setiap hari pasti sangat mengenal siapa di antara siswanya yang pintar, nakal, dan berbakat.  Agar evaluasi berjalan seperti yang diinginkan, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dapat memaksimalkan fungsi para pengawas sekolah agar pihak sekolah berhati-hati dalam melakukan evaluasi dan meluluskan para siswanya.

Apa pun yang akan dilakukan Pemerintah dalam menangani masalah penyelenggaraan Ujian Nasional, perlu diingat bahwa siswa tak akan pandai dan cerdas hanya dalam waktu singkat, walaupun ia jenius. Jangan hanya menilai siswa dari hasil Ujian Nasional yang hanya berlangsung beberapa hari. Perlu dinilai juga prestasi siswa sejak tingkat awal hingga akhir. Bagaimana pun metodenya, Ujian Nasional semata tak cukup untuk mengevaluasi seorang siswa. egr

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Business Address

Jl. Merdeka Barat, Jakarta 4-5, 4th Floor

Jakarta 10110, Indonesia.

Phone: +62 21 3456 811,

Fax: +62 21 3500 990